02 Januari, 2010

In Memoriam Opu Tua

In Memoriam H. Andi Hasan Opu Tohatta
SELAMAT JALAN GURU POLITIK

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Pada hari Sabtu, 01 November 2009, bertepatan detik-detik peringatan HUT dan pengukuhan pengurus baru DPP Partai Golkar, kabinet Aburizal Bakrie, di arena PRJ Jakarta, juga bersamaan dengannya berpulang ke rahmatullah, Ketua DPD II Partai Golkar Luwu Utara, H. Andi Hasan Opu Tohatta. Seorang tokoh senior Partai Golkar yang cukup disegani para politisi di tana Luwu, bahkan di wilayah Sulawesi Selatan sekalipun. Selain di-”tua”-kan, juga menjadi bagian dari guru politik yang sangat dihormati. Demikian sehingga kepergiannya, banyak orang merasa kehilangan.

Secara pribadi, meskipun tidaklah pernah mendidik saya secara formal tentang strategi dan kalkulasi politik, tetapi secara non formal --- di internal Partai Golkar khususnya --- diam-diam sungguh saya terlalu banyak mendapatkan pembelajaran politik yang sangat berharga darinya. Tidak saja dari petuah dan perkataannya, tetapi juga dari sisi prilaku dan praktek, bahkan pada strategi dan cara-cara almarhum mensikapi sejumlah persoalan politik. Seremeh dan segenting apa dan bagaimanapun keadaannya. Kalau sudah menyangkut harkat dan martabat, lebih-lebih kalau apa yang ia yaqini kebenarannya, sejengkal sekalipun ia tak akan mundur.

Demikian juga pada sisi yang lain, sebaliknya ia pula memiliki suatu kemampuan berlebih untuk mencari solusi dan mempertemukan jalan tengah atas suatu situasi yang pelit. Dengan kharisma dan bermodal ke-”bapak”-annya, ia mampu memberi tawaran-tawaran solutif sebagai titik temu kompromi yang dapat menguntungkan semua pihak. Tentu saja dua sisi kepiawaian almarhum dalam praktek politik bukan suatu yang serta merta, tetapi kepiawaian itu tentu saja adalah akumulasi dari perjalanan panjang lika-liku pahit, manis dan getirnya pertarungan politik yang telah ia dijalani sampai ajal menjemputnya sekalipun.

Lantaran perjalanan panjang itulah, sehingga sungguh begitu banyak kisah perjalanan hidup yang tidak menutup kemungkinan --- langsung atau tidak langsung --- menjadi bagian dari diri kita sendiri juga ada di dalamnya dan menjadi bagian darinya, yang oleh almarhum lewati dan ditinggalkannya. Cikal bakal awal mula pemekaran wilayah Tana Luwu, yang kini menjadi empat wilayah pemerintahan daerah otonom, dan menjadi bagian dari kehidupan seluruh masyarakat Tana Luwu saat ini, juga tak lepas dari bagian penting atas sikap politik almarhum. Belum lagi jika menyebut rangkaian kebijakan politik pemerintahan dan sosial kemasyarakatan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tentu saja tidaklah keseluruhan sikap politik almarhum dapat diungkapkan secara terbuka. Sebagaimana ia pernah berpesan ketika saya menawarinya untuk menuliskan biografi politiknya dalam sebuah buku dengan judul yang telah saya siapkan. ”Andi Hasan: Tokoh Pejuang Empat Zaman” (Era Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi). ”Biarlah sejarah kelak yang mencatat apa yang telah saya perbuat. Saya serahkan pada generasi penerus untuk merenungkannya. Terserah saja, apakah generasi berikut nantinya mau menuliskannya dalam tinta putih, hitam ataukah tinta merah sekalipun”, ujarnya kala itu.

Salah satu diantara yang menurut almarhum patut direnungkan bagi generasi berikut. Dimana hingga akhir hayatnya, sepanjang pengetahuan saya, meskipun mungkin secara substansial telah dijelaskannya kepada beberapa pihak, tetapi setahu saya ia tak pernah mengungkapkan apa rahasia dibaliknya terhadap sikap politik almarhum dalam menghadapi ”rongrongan” banyak kalangan terhadap upaya pembentukan Propinsi Tana Luwu, yang oleh banyak kalangan --- hingga akhir hayat almarhum --- masihlah tetap misteri, sehingga cenderung berindikasi multi tafsir dan bahkan berindikasi kontroversial. Ketika hal itu pernah saya tanyakan pada almarhum, ia hanya menjawabnya dengan senyumannya yang khas.

Sudah sedemikian keadaannya, sehingga kepergian almarhum menghadap Sang Khaliq, memang masihlah menyimpan terlalu banyak catatan-catatan panjang yang tak terungkapkan secara terbuka. Sebabnya karena ia adalah bagian utama dari secara panjang Tana Luwu itu sendiri. Tidak saja selaku penyimpan sejarah, tetapi pada dirinya adalah bagian dari sejarah Tana Luwu itu sendiri. Tak lain karena ia menjadi bagian dari pergolakan kehidupan empat orde (Era Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi), karena meski usianya sudah terbilang renta, tetapi sebagai veteran pejuang kemerdekaan, semangatnya tak pernah surut untuk terus mengabdikan jiwa dan raganya bagi bangsa dan negaranya.

Terhadap sikap mental dan semangat kejuangan itu, secara pribadi meskipun tidaklah terlalu sebegitu dekat dengannya, tetapi saya termasuk orang yang paling sering mendapat ”cercaan” dari almarhum yang saya memandangnya sebagai wejangan dari orangtua sendiri. Sebagaimana diketahui kepribadian almarhum sangat tidak menyukai sikap generasi muda yang bermental apatis dan tidak berani menghadapi tantangan. ”Kalian generasi sekarang jangan jadi generasi yang bermental masa bodoh dan penakut. Saatnya tugas kalian untuk mengisi kemerdekaan ini dengan karya-karya kalian yang berharga. Tidak akan pernah matahari terbenam di ufuk barat jika memang belum sampai waktunya”, pesan almarhum suatu waktu pada saya.

Makanya ketika mendengar ”Opu Tua” (demikian saya ikut menyebut penamaan yang akrab baginya) berpulang kerahmatullah, selain muncul rasa sedih kehilangan seseorang yang sangat saya hormati dan terlanjur menjadikannya sebagai guru politik, tetapi yang paling sangat disayangkan karena tawaran saya untuk menuliskan buku biografi untuk almarhum tidak dapat terealisir hingga ajal menjeputnya. Itu artinya bahwa masyarakat Tana Luwu dan bahkan mungkin masyarakat Sulawesi Selatan telah kehilangan sebuah kisah dan fakta sejarah yang otentik dari nara sumbernya yang asli. Selain pemilik sejarah, juga adalah pelaku sejarah itu sendiri.

Selamat jalan guru politik. Ajaranmu tak akan pernah lekang dikikis masa. Namamu abadi di hati sanubari kami. ”Allahummagfir lahuu warhamhu wa ’aafihii wa’fu ’anhu wa akrim nuzulahuu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bil-maa’i wats-tsalji wal-barad”

Sumber tulisan: Harian Palopo Pos, 05 November 2009

Reference:
Nama lengkap, H. Andi Hasan Opu Tohatta, Lahir di Malili, 31 Desember 1927, domisili Jl. A. Djemma 92 Malili, Luwu Timur, Sulsel, beristerikan St. Harifa (almarhum) dan 10 orang putra-putri. Ia mengenyam pendidikan di Sekolah Vervole (setingkat SD) di Makassar (1947), SMP di makassar (1951) dan SMA bagian C di Makassar (1995). Ia bergabung di Sekber Golkar Pusat (1968) dan bertugas sebagai Ketua Korwil Golkar Luwu (1971-1987). Setelahnya sebagai Wakil Ketua Golkar Luwu (1987-1989), Ketua Golkar Luwu (1989-1999), Ketua Partai Golkar Luwu Utara (1999-2003) dan Ketua Partai Golkar Luwu Timur (2003-hingga wafat). Pernah bekerja sebagai Kepala Kantor Agraria Kab. Gowa, Jeneponto dan Takalar. Kemudian terlibat di arena politik sebagai Wakil Ketua DPRD Luwu (1997-1999), Ketua DPRD Luwu Utara (1999-2004) dan Ketua DPRD Luwu Timur (2004-hingga wafat)

28 Oktober, 2009

Esei Pemimpin Daerah

CALON PEMIMPIN (DARI) DAERAH

Oleh Armin Mustamin Toputiri


Setiap kali ke Jakarta dan bertemu kawan-kawan lama sesama mantan pengurus pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI), maka setiap itu pula mereka mengingatkan saya pada sejumlah kata-kata yang dulu pernah saya ucapkan dalam diskusi-diskusi kecil diantara kami. Kawan-kawan ini menilainya sebagai pernyataan ”nakal” khas manusia Bugis-Makassar. Mengandung gugatan, tapi kata kawan-kawan menilai penuh makna dan sedikit ”bertuah”.
Artinya menarik untuk diperdebatkan dan didiskusikan lebih lanjut. Padahal setau saya, pernyataan-pernyataan itu meluncur apa adanya, sesuai logika atas realitas yang saya pahami.


Dan pada siang hari ini, di Kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta. Kawan-kawan lama itu ada di sini, berkumpul lagi untuk mengambil peran atas suatu hajatan pertarungan politik praktis dalam waktu dekat. Sekali lagi kawan-kawan ini --- sebagian pula diantaranya bergabung sejumlah adek-adek pengurus DPP KNPI periode yang sedang berjalan sekarang ini --- kembali mengingatkan beberapa penggalan-penggalan kata yang dulu pernah saya ungkapkan. Saya heran, karena sebagian diantara banyak kawan ini, ada juga yang masih tetap mengingat-ingatnya. Sementara saya nyaris sudah melupakannya.

***

Serasa susah memang hidup di kota besar, seperti Jakarta ini, sebagaimana konsekuensi dari kemajuan dan kepadatan penduduk, maka tak ada lagi lahan --- tanah kosong --- yang bisa diolah untuk mencari nafkah buat makan. Apa jadinya terjadi, manusia sesama manusia saling mengolah. Itu hakikat sebuah kota. Selalu berbasis pada jasa. Maka orang-orang di kota-kota besar, termasuk Jakarta ini, orang lebih tunduk dan hormat pada siapa yang memiliki modal kuat. Dengan itu ia bisa membeli segala-galanya. Maka harga diri pun kadang sulit terjaga. Kalau tak punya potensi dan kompotensi sebagai modal transaksionil, maka diri dan harganya pun kadang halal dijual buat makan”.


Kalau pernyataan saya di atas coba dicermati, sebenarnya suatu yang sifatnya linier saja, sudah demikianlah kerangka konstruktif kehidupan di kota sebagaimana normalnya. Sehingga sebaliknya juga terjadi kehidupan di daerah, desa dan kampung-kampung yang belum maju: ”Sebagai orang yang berdomisili di Makassar misalnya, sebuah kota yang sedang bergerak merangkak maju, masihlah tersedia lahan tanah kosong yang cukup untuk diolah sebagai biaya makan. Maka ketergantungan kami orang-orang daerah pada pemilik modal belumlah sampai di situ. Karena lahan adalah olahan sumber kehidupan buat makan, maka kami orang-orang daerah akan sangat jauh lebih tunduk dan hormat pada tanah dan alam raya ini. Dan bukan atau belum sampai ketundukan pada pemilik modal”.

***


Penggalan kalimat di atas, itulah diantaranya yang dulu pernah saya ucapkan dalam suatu kali diskusi kecil-kecilan bersama kawan-kawan, ketika masih terlibat sebagai pengurus DPP KNPI, yang berakhir setahun lalu. Dan siang ini di Kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta, dengan riuhnya kembali diperbincangkan oleh kawan-kawan ini, diselingi gurauan-gurauan riuh renyah penuh persahabatan sebagai sesama kawan lama. Dan saya berkali-kali menangkis gugatan kawan-kawan ini , juga dengan sedikit bercanda pula. Tapi ternyata apa kata kawan-kawan ini, bahwa tangkisan saya justru mencipta lahirnya gugatan baru. Menarik untuk dilanjutkan pada perdebatan dalam pertemuan-pertemuan berikut, dan selanjut-selanjutnya.


Apa kata saya: ”Kalaupun kawan-kawan ingin hidup di Jakarta ini tanpa potensi sebagai modal transaksionil dengan para pemilik modal, dan terus ingin bertahan dengan kondisi demikian, maka saya tidak akan pernah percaya, di kota-kota besar macam Jakarta ini, kelak akan melahirkan pemimpin masa depan yang memiliki integritas dan karakter yang kuat. Dan kalau demikian terjadi, jangan salahkan kalau Indonesia masa depan, akan dipimpin oleh kami-kami ini yang lahir dan bertumbuhkembang di daerah. Dan pemimpin-pemimpin baru dari daerah ini, bisalah dijamin masih memiliki integritas dan karakter yang kuat. Selain karena lebih hormat pada tanah dan alam raya, juga belum tunduk hormat kepada para pemilik modal”.

***


Mendengar pernyataan saya kali ini, riuh tawa dan canda kawan-kawan --- serta sebagian adek-adek yunior --- sekejap menghilang. Sunyi senyap. Mereka memandangi wajah saya dengan sangat tajam, sambil terangguk-angguk. Masih dengan kondisi seperti itu, saya pun menarik koper untuk bergegas ke Bandara, kembali ke Kota Makassar tempat dimana saya berdomisili setelah sekian puluh tahun. Saya menyalami dan berpelukan satu persatu kawan-kawan seperjuangan ini. Saya minta pamit meninggalkan kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta. Sebuah kamar mewah yang disiapkan cuma-cuma oleh salah satu pemilik modal terkemuka Indonesia saat ini, bahkan masuk katagori lima besar terkaya di Asia, yang dalam waktu dekat juga akan memasuki arena pertarungan politik praktis tingkat tinggi.


Di atas udara dengan ketinggian jelajah 32.000 kaki di atas permukaan laut, di seat kursi 28-F, penerbangan Batavia Air, Jakarta menuju Makassar, saya mengenangkan kembali kelakar dan kebaikan-kebaikan kawan seperjuangan --- serta sejumlah adik-adik --- saya yang sangat baik itu. Dari balik saku jaket kulit ”cakar” (”cap karung”, istilah lain di Sulawesi Selatan untuk ”Pakaian Impor Bekas”) yang saya kenakan, saya menarik handphone Nokia comunicator, lalu saya menuliskan kisah perkawanan yang berisi dan penuh makna yang sepertinya sulit untuk dilupakan. Setidaknya dengan menggoreskannya dalam bentuk tertulis --- seperti yang Anda baca sekarang ini --- kalau bukan sekarang ini, mungkin kelak kemudian hari akan memiliki pengertiannya tersendiri. Tergantung pada cara kita masing-masing memaknainya.


Saya ingin menutup goresan-goresan di atas pesawat ini, dengan salah satu cerita lucu, nyinyir dan menggelitik, yang dulu pernah diungkapkan salah satu diantara kawan-kawan terbaik saya ketika masih terlibat sebagai pengurus DPP KNPI, dulu. Cerita ini begitu berkesan sehingga tersimpan dengan rapi dalam memori ingatan saya, bahkan pernah saya tuliskan pada Beranda FB saya (15/8/2009).

Kisahnya adalah suatu ketika d
i tepi jalan, Presiden RI menemukan sebuah botol yang tertutup rapi. Diambilnya lalu tutupnya dibuka. Maka keluarlah asap menebal, lalu menjelma jadi Jin Raksasa. "Tuan telah membebaskan saya. Silahkan minta apa saja, pasti akan saya kabulkan". Presiden RI: "Saya hanya minta dibantu agar seluruh utang-utang Indonesia di luar negeri dapat dilunasi”. Sang Jin pun berpikir sejenak, geleng-geleng kepala, lalu jasadnya loncat kembali masuk ke dalam botol. "Tuan... tolong botolnya ditutup kembali!".


Di atas pesawat Batavia Air, 07 September 2009


Catatan:

Goresan ini saya persembahkan khusus pada sejumlah adinda Pengurus DPP KNPI periode sekarang ini. Hasrul Rahman, Risman Pasigai, Muhammad Balyah dan Mustahuddin yang menjadi saksi dan pelaku canda dan gurauan di Kamar 1803, Aston Rasuna Residence, Kuningan-Jakarta.

Esei Lelaki Kawendi

LAMPU STRONGKING DI PAMBUSUANG

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Kampung Pambusuang, sebuah kampung kecil di Polewali Mandar (Sulbar), sumber sejumlah tokoh sekaliber Prof. DR. Baharuddin Lopa, Prof. DR. Basri Hasanuddin, Prof. DR. K. H. Sahabuddin, K. H. Muchtar Husain, serta lainnya. Di balik sejumlah tokoh yang mencatatkan kiprahnya hingga level nasional bahkan internasional itu, kampung Pambusuang masih menyimpan satu lagi sosok manusia, yang menurut saya ”maha penting” bagi kehidupan. Meski sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, tetapi sampai saat ini masih saja membuat saya penasaran. Sekalipun orang-orang di Pambusuang sana, tidak pernah peduli, apalagi mau memperhitungkannya. Malah sebaliknya telah memvonisnya sebagai orang yang tidak waras.


Nama lelaki tua itu, Kawendi. Orang-orang Pambusuang akrab menamainya ”Timorang”. Sebabnya karena ia sering berprilaku aneh, tidak seperti masyarakat normal pada umumnya. Jika musim angin Timur tiba --- musin dimana angin berhembus kencang di wilayah jazirah Mandar, Sulawesi Barat --- kerjanya berkeliling kampung membawa lampu strongking yang menyala, bahkan pada saat siang hari ketika matahari bersinar terang. Meski penduduk Pambusuang lainnya mengatai dirinya kurang waras, tapi ia tak pernah akan peduli. Kawendi tetap saja melakukan kebiasaannya. Entah apa maksudnya?. Hanya Kawendi seorang yang tahu. Dan kenyataan seperti inilah yang membuat saya masih saja tetap penasaran dengannya.


Bagi saya yang tidak sedikitpun berdarah (suku) Mandar, apalagi berdomisili di Pambusuang, sosok Kawendi dan prilakunya, adalah manusia ”maha penting”. Ia menyimpan terlalu banyak pernyataan-pernyataan yang patut untuk dimaknai. Nyaris sudah satu sekampung orang Pambusuang pernah menanyai apa dalih dan alasan dirinya berkeliling kampung membawa lampu strongking yang menyala pada saat siang hari. Kawendi selalu saja memberi jawaban-jawaban yang sangat diplomatis, yang menurut saya sangat sarat makna. "Mayagai tau, tappa pi'de maninini mata allo..." (kita harus senantiasa waspada, jangan sampai matahari tiba-tiba padam). Hanya sesederhana itu alasannya.


Suatu waktu seseorang pernah menepis pernyataannya itu, mengatakan bahwa matahari akan padam jika qiamat sudah datang. Tapi Kawendi begitu terkekeh mendengarnya. "Ha.... ha.... Kalian ini nampaknya tidak paham bahwa dunia ini dicipta Tuhan hanya dengan sekejap saja, ”qum” maka jadilah. Dan Tuhan menciptakan dunia ini hanya sekali, hanya sekali itu saja. Jangan kalian tunggu kedua kalinya”, Demikian Kawendi berargumen. Dan jika argumen Kawendi ini coba dicermati, apakah itu jawaban orang waras atau tidak waras? Malah justru saya kadang mengandai-andai, jangan-jangan justru sebaliknya, orang-orang Pambusuang-lah yang tidak waras memahami Kawendi.


Cobalah simak dan cermati argumen Kawendi selanjutnya. ”Tadi malam juga bulan terang benderang, tapi sesaat jelang hujan keras turun, bulan pun tiba-tiba padam”. Bukankah ini suatu pernyataan yang normal dan realis. Bulan menampakkan cahayanya yang terang benderang di malam hari. Dan segera membawa kegelapan, ketika awan menutupinya. Sudah sedemikian realitasnya, tapi lebih lanjut Kawendi mengingat-ingatkan. Mengingatkan pada kita semua. ”Kalau gelap datang, waspadalah karena setan dan kuntilanak akan banyak bergentayangan”. Sebuah peringatan, karena dikegelapan penglihatan kita menjadi tidak normal. Diantara kita bisa saja berubah wujud menjadi ”setan” atau ”kuntilanak”.

***
Pada mulanya saya pun meragukan cara pandang saya sendiri bagaimana memahami pola laku Kawendi menyalakan lampu strongking saat siang hari, serta pernyataan-pernyataannya yang menggelitik, bahkan ukuran saya cukup filosofis. Jangan-jangan Kawendi benar seorang yang tidak waras, lalu saya pun terjebak dan terperangkap ikut menjadi tidak waras. Tetapi meski tetap pada posisi keragu-raguan, saya selalu mencoba untuk menindihnya pada kata bijak ”unzur ma qala, wa laa tanzur man qala”. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. Terserah apakah Kawendi tidaklah sekaliber tokoh asal Pambusuang lainnya, ataukah ia seorang yang memang tidak waras, tapi bagi saya ia orang ”maha penting” sebagai media pembelajar.

Jika membuka lembaran sejarah hidup para pemikir terkemuka, serta sekian banyak filosof yang termasyhur. Tidak lebih kurang adalah sama saja pola laku Kawendi --- meski tidak bermaksud mempersamakan nilai dan kadarnya --- yang bagi orang awam dan pada masyarakat umum yang melihatnya bukanlah manusia normal. Dalam arti sosiologis, tidak seperti manusia dominan. Cobalah misalnya menelusuri kehidupan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik, yakni Abu Nawas yang bernama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami yang dilahirkan tahun 747 (145 Hijriah) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang). Sesungguhnya ia adalah seorang filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).

Abu Nawas selain dikenal karena kecerdikannya, juga karena kenyentrikan. Pada usia muda ia jalani penuh dengan perilaku kontroversial serta mabuk-mabukan. Tetapi dalam perjalanan hidup selanjutnya, sebagai penyair ia coba dan terus menapaki perjalanan spiritualnya untuk mencari kesejatian hidup dan hakikat Allah. Setelah mencapai tingkat spiritual cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi tentang khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Salah satu syairnya sangat termasyhur di Indonesia. Ilahi, lastu lilfirdausi ahla / Wala aqwa 'ala naril jahimi / Fahab li tawbatan waghfir dzunubi / Fainaka ghafirud dzanbil adzimi....

***
Kembali pada soal pola laku Kawendi yang memiliki kebiasaan aneh, berkeliling kampung membawa lampu strongking yang menyala saat siang hari, saat matahari sedang terang benderang. Bagi saya bukanlah suatu perbuatan yang sebegitu sederhana --- meski juga bukanlah suatu yang perlu difikirkan secara berlebih --- tetapi saya lebih melihatnya bagai sebuah lakon visual dalam sebuah pementasan theater. Kawendi ingin menyampaikan kepada siapapun yang berpijak di bumi untuk selalu waspada, agar tidak mencipta dan terhindar jauh dari kegelapan. Manusia membutuhkan ”nur” sebagai cahaya penerang. Cahaya dari lampu strongking Kawendi. Karena dikegelapan kata Kawendi, akan banyak ”setan” atau ”kuntilanak” yang gentayangan.

Kawendi --- sekali lagi menurut ukuran saya --- adalah sosok manusia ”maha penting” bagi kehidupan. Perbuatan dan perkataannya, sangat multi interpretasi, bersayap dan multi tafsir. Cobalah cari tau, kenapa sebegitu terkekehnya lelaki tua itu mendengar pernyataan seseorang yang mengatakan padanya, bahwa matahari saatnya akan padam jika hari qiamat sudah tiba. Jangan-jangan Kawendi hendak menertawai kerangka pandang dan pemahaman kita yang terlanjur jamak sangat tekstual dan rigit dalam memaknai pengertian hari qiamat dan datangnya hari qiamat. Jika demikian, kalau seandainya Kawendi benar tidak waras, maka apakah kita tidak sedang berada pada posisi terbalik. Kawendi yang telanjur kita nilai tidak waras justru terkekeh-terkekeh menertawai kita ini, yaitu kita-kita orang-orang yang telanjur masih waras ini.

Soal antara siapa waras dan siapa yang tidak waras, sekilas memang hanyalah soal perspektif. Tergantung pada sisi mana kita memandang suatu objek. Tidak lebih kurang ukurannya hampir sama saja dengan cara kita mengukur siapa hianat dan siapa loyalis. Ketika saya mendukung si ”A” dalam Pilkada, si ”A” mengatakan saya loyalis dia. Sebaliknya si ”B” akan mengatakan saya menghianati dia, sekurang-kurangnya tidak mendukungnya. Besok lusa ketika saya mendukung si ”B” dalam Pilkada, si ”B” berbalik mengatakan saya loyalis dia. Sebaliknya si ”A” akan berbalik mengatakan saya menghianati dia. Pembatas yang menjadi pembeda diantara keduanya hanyalah soal ruang dan waktu. Itu adalah soal pergeseran subjek, tetapi objek sebagai substansi, tetaplah berada dikeabadiannya secara objektif.

***


Menggoreskan kisah Kawendi alias ”Timorang” dengan lampu strongkingnya yang menyala diarak keliling kampung saat siang hari dan matahari terang benderang, pula mengingatkan saya pada suatu kisah kehidupan masyarakat kampung Pambusuang, yang dituliskan Baharuddin Lopa (almarhum) di salah satu media cetak nasional (seingat saya Harian Republika, tapi lupa tanggalnya). Kisahnya, suatu malam di Pambusuang, seorang Kiyai memimpin suatu rapat dengan beberapa tokoh masyarakat. Sudah berjam-jam hingga larut malam, tapi rapat juga belum membuahkan hasil permufakatan. Insting Kiyai yang memimpin pertemuan, sudah menduga kalau-kalau pasti ada soal lain di luar peserta rapat yang menjadi faktor penghambat.


Semua peserta rapat sudah berbersih hati, tapi kenapa setiap kali Kiyai hendak mengambil putusan, masih saja selalu berputar kembali kepermasalahan awal. Setelah Kiyai menelusuri seluruh aspek yang kemungkinan menjadi muasal penyebabnya, Tidak lain muasal ganjalannya adalah bersumber dari kopi yang diminum seluruh peserta rapat. Ternyata ibu-ibu yang bertugas menyiapkan penganan bagi peserta rapat, memasak airnya di atas tungku bersumber dari kayu bakar tetangga. Dan kayu bakar itu diambil tanpa seizin pemiliknya, karena dinilai suatu perbuatan yang sudah halal-halal saja, sebagaimana umumnya berlangsung sebagai kebiasaan masyarakat Pambusuang. Saat pemilik kayu bakar memaafkan, rapat pun membuahkan hasil.

Kisah yang diungkap Baharuddin Lopa ini, mengingatkan kita untuk tidak sebegitu merendahkan hal ikhwal yang sepertinya dianggap remeh. Ternyata dari hal-hal yang biasanya dikatagorisasi tidak bernilai, justru memberi kemudaratan terhadap soal-soal yang biasanya dikatagorisasi besar. Atau sebaliknya seperti kisah Kawendi alias ”Timorang”. Sudah sekampung orang-orang Pambusuang mencapnya tidak waras. Tapi jangan-jangan justru sebaliknya, Kawendi adalah sosok seperti kisah sang sufi dan penyair, Abu Nawas (sebagimana terungkap pada bagian tengah tulisan ini). Ataukah jangan-jangan Kawendi memang tidak waras, hanya saya sajalah yang melebihkannya sebagai manusia ”maha penting”, karena memang saya yang tidak waras?.

Minasaupa, 16 September 2009


CATATAN:
Goresan ini terimplementasi atas kegelisahan yang terus menerus menghantui pada kisah ”Kawendi” alias ”Timorang”, yang saya temukan ketika berkeliling ke sejumlah kampung pada saat terlibat aktif dalam perjuangan pembentukan Propinsi Sulawesi Barat, beberapa tahun yang lalu. Terima kasih pada Sdr. Watif Waris dan Hamzah Ismail (warga FB) yang mengingatkan ulang uraian kisah ini.

22 Oktober, 2009

Catatan Munas VIII Golkar

Catatan Tercecer Munas VIII Partai Golkar
Kekeliruan dan Harapan Baru

Oleh Armin Mustamin Toputiri
Ketua Biro OKK Partai Golkar Sulsel

Sudah sepekan Munas VIII Partai Golkar di Bumi Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau, berakhir, tapi kehangatannya masih saja membias hingga saat ini. Sejumlah soal masih menjadi sorotan dan perbicangan hangat berbagai pihak.

Terhadap sorotan itu, sebagai orang yang terlibat dalam kepengurusan Partai Golkar, memiliki tanggung jawab untuk mendudukkan titik persoalan semestinya.

Pertama, soal sikap Aburizal Bakrie, sebagai Ketua Umum terpilih, yang membawa Partai Golkar merapat kedalam kekuasaan SBY. Hakikatnya ini bukan semata-mata kekeliruan Aburizal sebagai Ketua Umum terpilih, tetapi ini adalah kekeliruan Munas VIII yang tidak sejak awal merumuskan positioning Partai Golkar sebagaimana idealnya.

Jika seandainya Munas VIII sejak awal merumuskan dan menetapkan idealnya positioning Partai Golkar sebagaimana khittah dasar kelahiran Golkar sebagai organisasi yang mandiri untuk memihak kepada kepentingan bangsa dan rakyat, bukan pada kepentingan kekuasaan, maka selaku mandataris Munas VIII, Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum terpilih, wajib untuk tunduk terhadap putusan positioning Partai Golkar itu, setidaknya dalam lima tahun ke depan.

Kedua, soal komposisi kepengurusan yang bernuansa aplikatif dan dicurigai akan membawa kiprah Partai Golkar ke depan lebih pragmatis. Misal dimasukkannya Departemen Hubungan Eksekutif dan Yudikatif, Departemen Hubungan Legislatif dan Lembaga Politik, serta adanya Bidang Umum, Bidang Khusus dan Bidang Pemenangan Pemilu Daerah.

Meskipun komposisi demikian disusun dalam kerangka Catur Sukses visi Aburizal, tetapi kerangka demikian mestinya dijabarkan dalam lembaga dan badan khusus yang sifatnya ad-hoc dalam kepengurusan. Kekeliruan seperti ini juga menjadi bagian dari kegagalan Munas VIII yang tidak merumuskan secara pasti komposisi kepengurusan Partai Golkar disemua jenjang.

Ketiga, soal munculnya sejumlah personalia pengurus yang dinilai ”loncat pagar”. Soal ini juga adalah bagian dari kegagalan Munas dalam menjabarkan sistem serta ketentuan syarat dan kriteria rekruitmen personalia pengurus di semua jenjang struktur kepengurusan, dimana AD/ART Partai Golkar sejak awal mensyaratkan masa pengabdian minimal lima tahun.

Akibat tidak dirumuskannya secara pasti ketentuan dimaksud, sudah barang tentu akan berbias secara meluas pada seluruh jenjang kepengurusan Partai Golkar. Kasus ”loncat pagar” tidak saja akan terjadi dalam personalia kepengurusan DPP, tetapi sendirinya membuka ruang kasus yang sama pada jenjang struktur di bawahnya. Dan jika demikian terjadi, maka fungsi dan peranan sistem kaderisasi internal tidak lagi memiliki arti sesuai substansinya.

Keempat, soal terabaikannya sejumlah kader muda potensil dalam rekruitmen kepengurusan DPP Partai Golkar, seperti Ferry Mursyidan Baldan, Yuddy Chrisnandi, Indra J. Piliang, Meutia Hafid, Jeffri Geovany dan lainnya, adalah kekeliruan besar yang dilakukan para formatur Munas VIII dalam melakukan praktek politik ”tumpas kelor”.

Kejadian seperti ini mestinya tak perlu terjadi dalam internal Partai Golkar, sebab idealnya partai ini adalah partai golongan dalam arti plural, sehingga perbedaan sikap dan dukungan pada figur tertentu dalam forum pengambilan keputusan, harusnya dimaknai sebatas dinamika internal kekaderan, sehingga janganlah membawa konsekuensi tersingkirnya mereka dalam jajaran kepengurusan, karena jika itu terjadi justru Partai Golkar yang rugi kehilangan kader potensial.

***

Meskipun Munas VIII Partai Golkar masih menyisahkan sejumlah agenda yang menjadi tanggung jawab Rapimnas untuk menindaklanjutinya, tetapi di sisi lain, Partai Golkar dibawah kepemimpinan Aburizal Bakrie, juga menyimpankan banyak harapan-harapan baru dalam mendorong gerak laju dan kiprah Partai Golkar ke depan.

Pertama, dibawah kendali Ketua Umum terpilih, Aburizal Bakrie, sebagai kader senior Partai Golkar yang memiliki modal kapital yang cukup berlebih, setidaknya akan dapat menyelamatkan Partai Golkar dari hambatan-hambatan finansial dalam menghadapi sistem pemilihan eksekutif dan legislatif yang terbuka. Meskipun hal ini sifatnya berbau klasik, tetapi kondisi politik saat ini hal demikian menjadi sangat urgen.

Kedua, bahwa komposisi dan personalia kepengurusan DPP Partai Golkar (2009-2014) yang dominan diwarnai generasi baru, setidaknya diharapkan akan mampu mencipta nuansa dan dinamika baru internal Partai Golkar yang selama ini diwarnai kultur monolitik dan konservatif. Generasi baru ini diharapkan mampu mencipta kultur internal yang lebih terbuka, dialektik dan intelek, sehingga setiap orang yang terlibat didalamnya dapat menunjukkan partisipasi aktif dan berkonstribusi secara positif.

Ketiga, bahwa dengan tampilnya banyak kader-kader muda potensil dalam komposisi dan personalia kepengurusan DPP Partai Golkar saat ini, diharapkan akan mampu mendorong gerak laju Partai Golkar secara massif untuk mampu menangkap dan menjawab tantangan sosial politik era multi partai yang makin agresif dalam dinamika era multi partai. Setidaknya tidak lagi membiarkan Partai Golkar tertatih-tatih di belakang memburu dinamika eksternal, seperti terjadi dalam lima tahun terakhir.

***

Terakhir yang patut untuk dicermati sebagai ”pekerjaan rumah” Partai Golkar selanjutnya. Jika seandainya Aburizal Bakrie benar-benar membawa Partai Golkar merapat ke dalam kekuasaan SBY, maka pertanyaan yang muncul, sudah siapkah SBY menyerahkan tongkat estapet kepemimpinan nasional berikutnya kepada kader Partai Golkar, tidak lagi pada Partai Demokrat? Jika tidak, lalu dimanakah posisi kader Partai Golkar dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2014?

Sumber: Harian Tribun Timur, Makassar, 16 Oktober 2009

19 September, 2009

cerpen

PEREMPUAN PETARUNG


Oleh Armin Mustamin Toputiri


Perempuan ini kutemukan tergeletak di tepi jalan. Ketika hari beranjak malam. Selepas magrib. Ia berada diantara tumpukan material pembangunan plyover yang sedang dalam tahap akhir. Jembatan layang perempatan Pettarani dan Urip Sumihardjo, Makassar. Ia merangkak sempoyongan dari arah bawah selokan. Jarak dekat, ia terkena sorotan lampu mobilku. Ia kuhampiri untuk maksud menolongnya.


”Pak tolong saya!”. Hanya sepatah kalimat lirih itu keluar dari bibirnya. Lalu pingsan dan tergeletak begitu saja. Di tepi jalan itu. Wajahnya bersimbah darah. Darah yang masih segar membasahi setengah jilbabnya. Jilbab putih yang telah memerah disiram aliran darah. Aku tidak tahu siapa dia. Apalagi untuk mengetahui namanya. Pastinya kutahu kenapa dia ada di bawah selokan itu. Dan kenapa ia luka. Kenapa mukanya berdarah.


Sudah hampir bisa kupastikan. Dia salah seorang dari ratusan warga kota yang berdemonstrasi depan wakil-wakilnya di DPRD Sulawesi Selatan. Mereka baru saja melakukan demonstrasi besar-besaran, yang berakhir rusuh. Karena itu mereka dibubarkan secara paksa oleh aparat keamanan. Mereka memperjuangkan haknya atas sepetak tanah di sudut kota yang didiaminya puluhan tahun. Atas seizin pemerintah, seorang investor akan membanguninya sebuah gedung mewah. Tentunya juga hanya mampu didatangi oleh orang-orang mewah.


Mereka mengancam tidak akan membubarkan diri sebelum wakil rakyat, segera --- sekarang itu juga --- menyuruh menarik mundur sejumlah alat berat yang tengah mengoyak-ngoyak rumah tempat dimana mereka berteduh selama ini. Alat berat itu tengah meraung-meraung membedah dan melulantahkan rumah mereka. Merampas seluas tanah yang diakui sebagai hak kepemilikan mereka. Dan para wakil rakyat itu tetap bertahan pada argumennya. ”Dewan bukan preman, sekehendak begitu saja menyuruh menarik mundur alat berat itu!”, jelas seorang wakil rakyat yang menerima aspirasi mereka. ”Semua ada prosedur dan mekanismenya!”, lanjutnya.


Daripada pulang sedang rumah telah rata dengan tanah. Para demonstran itu memilih tetap bertahan di halaman kantor dewan itu. Sudah delapan jam mereka ada di situ. Mereka mulai gerah, kepanasan, haus dan lapar, dan membayangkan bagaimana alat berat yang begitu kokoh mengoyak rumah mereka. Batin mereka tertindih. Selepas magrib, kemarahan ratusan orang itu dilampiaskan secara garang dan beringas. Menduduki dan coba menyandera para wakil rakyat. Tak membiarkan seorangpun meninggalkan kantor, sebelum tuntutan terpenuhi. Keadaan sulit terkendalikan. Aparat keamanan mengambil tindakan tegas membubarkan mereka secara paksa.


Diantara anggota dewan yang tersandera, adalah aku. Dan saat hari mulai gelap, halaman kantor pun mulai lengang ditinggal ratusan demonstran yang tadi dibubarkan paksa, aku meninggalkan gedung tempatku berkantor sebagai wakil rakyat. Sekian meter bergerak, kutemukan perempuan ini. Merangkak, pingsan lalu tergeletak. Beruntunglah ia terkena sorotan lampu mobilku.


***


Perempuan yang sepertinya masih gadis ini, sekarang ada di atas mobilku. Tak kutau siapa nama dan keluarganya. Menanyai juga tak mungkin. Ia tengah pingsan. Kuantar dia ke rumah sakit terdekat. Tangannya terus mengepal. Ia mengepal erat selembar kertas. Kuraih, tapi sepertinya agak sulit lagi membaca isinya secara pasti. Bukan karena hari mulai gelap, tapi lembaran kertas itu telah basah. Diluluri darah segar perempuan ini.


Dari isinya, bisa diduga kalau lembaran kertas ini, adalah lembaran petisi yang tadi dibacakan di depan wakil rakyat. Saat mereka berdemonstrasi. Dibagian bawah isi lembaran kertas itu, tertulis Rizka Rahdian Sulastri, Koordinator. Dibubuhi tanda tangan. Cap stempel nama organisasi Komunitas Masyarakat Miskin (Tas MAMI). Kalau demikian apakah perempuan ini pemilik nama seindah itu? Apakah tanda tangan di lembaran kertas ini digoreskan lentik jari perempuan ini?. Apakah perempuan ini koordinator organisasi ”Tas MAMI”, sekaligus koordinator gerakan aksi yang baru saja dibubarkan paksa?. Menanyainya tak mungkin. Ia masih pingsan.


Di rumah sakit. Dokter melakukan perawatan intensif. Aku memilih menungguinya depan pintu masuk rumah sakit. Sekalian melaporkan kepolisian apa terjadi. Kutemukan seseorang tergeletak tepi jalan plyover, jembatan layang Makassar. Ia perempuan. Berjilbab, celana jean’s, kulitnya putih, dan sepertinya masih gadis. Ia terluka dan mengucurkan banyak darah dibagian kepala. Sekarang sedang dalam perawatan dokter di rumah sakit.


”Pak... keluarganya telah selesai dirawat”, jelas suster yang menemuiki.


”Oooh, begitu.Apa dia sudah siuman dan sadarkan diri?”


Suster cantik itu mengangguk. Mengiyakan.


”sekarang ia ada dimana?”, tanyaku lagi. Suster membimbingku ke ruang perawatan.


Kini aku ada dan berdiri depan perempuan itu. ”Siapa bapak?”, tanyanya heran.


”Bapak ini yang tadi mengantar Anda datang ke sini”, sela suster coba menjelaskan.


”Iya, aku menemukanmu tadi terluka dan pingsan”


”Trima kasih pak. Tapi Rizka sekarang lagi berada dimana?”


”Di rumah sakit. Dokter baru saja mengobati luka memar di wajahmu”


Setelah berpesan pada pasiennya, suster pun pamit dan berlalu. Membiarkanku di ruang kamar perawatan ini. Menemani perempuan yang sama sekali tak kukenali ini. Baru saja kupastikan kalau ia benar-benar koordinator lapangan demonstrasi petang tadi. Betul ia bernama Rizka Rahdian Sulastri, setelah ia sendiri menyebut namanya secara singkiat. Rizka.


Kujelaskan singkat kisah bagaimana ia kutemukan tergeletak, pingsan dan terluka diantara material bangunan plyover. Ia cuek saja mendengarnya. Tapi ketika kuminta menjelaskan kenapa sampai ia ada dibalik got itu. Perempuan ini memberi respon. menceritakan sekilas.


Sewaktu keadaan mulai ricuh dan gaduh, aparat keamanan pun mulai membabi buta. Karena Rizka koordinator lapangan gerakan aksi tadi, kerumunan aparat itu mengepung dan coba menyeret Rizka. Saat dalam posisi terdesak dorongan dan kericuhan massa yang mulai anarkis. Rizka masih sempat bergumam. ”Ooh Tuhan, matilah aku saat ini!". Dan saat terjepit diantara kepungan aparat yang mulai beringas pula, Rizka nggak paham entah darimana datangnya suara menggema hinggap dibalik ingatanku. "Tidak, kau tidak akan mati, ajalmu belum tiba. Ambillah batu besar di bawah kakimu, lalu kau benturkan ke kepala aparat yang kau lihat paling beringas yang tepat berdiri di depanmu".


Mendengar suara entah darimana datangnya itu. Rizka segera bergegas mengambil batu, lalu seketika benar-benar Rizka membenturkannya, persis di batok kepala aparat yang Rizka liat paling beringas. Aparat sempoyongan lalu terkapar. Ia segera mendapat bantuan temannya. Saatnya Rizka coba berlari menjauhi mereka. Tapi ternyata yang menjegal Rizka jauh lebih banyak. Mereka geram, bagai ingin menelan Rizka bulat-bulat, lantaran melihat kawannya terkapar, akibat kutimpa batu batok kepalanya. Dan tiba-tiba suara menggema itu datang lagi. "Nah, sekarang ini ajalmu tiba!". Setelahnya semua serba gelap. Rizka tak ingat apa-apa lagi.


Aku tercengang mendengar penjelasan perempuan dengan sedikit dialeg Jawa ini. ”Luaaar biasa. Bagiku kau perempuan petarung!”.


Mendengar pujianku --- dibalik perban yang melilit sebagian wajahnya --- perempuan yang belakangan kutau bernama Rizka ini, mukanya merona. Tersenyum simpul. Lesung pipitnya nampak. Menunjukkan kalau dia gadis yang cukup penting untuk dipertimbangkan lelaki yang masih bujang untuk segera mempersuntingnya.


Aku menyorongkan handphone miliknya yang sejak tadi kugenggam. ”Tadi dokter menitipkan pada saya, ketika mengeluarkannya dari saku celana jeansmu”.


”Oooh... terima kasih pak”, katanya. Saya mengangguk mengatakan ”iya”.


”Bapak telah menyelamatkan handphone yang Rizka pelihara baik ini. Ini handphone murahan sih pak. Rizka pelihara baik bukan karena harganya. Tapi terlalu banyak nomor orang-orang penting termemori didalamnya”.


Sambil bercakap denganku, sambil pula ia mengutak atik handphonenya. Sepertinya ia tengah mengirim sms pada seseorang. Mungkin hendak mengabari keluarga atau kerabatnya, kalau ia ada dirumah sakit ini.


”Siapakah diantara orang-orang penting yang Anda maksud?”, tanyaku penasaran.


”Yah... mereka itu para orang-orang yang tak tahu diri itu. Para pemilik modal itu. Dan sejumlah pejabat pemerintah dan wakil rakyat yang telah bermain kong kali kong. Mereka tega merampas hak atas tanah rakyat miskin lalu dijual pada si pemilik modal. Dengan dalih atas nama kemajuan pembangunan. Kemajuan pembangunan fisik. Gedung-gedung mewah yang hanya mampu didatangi oleh orang mewah juga. Itulah kemajuan dalam pandangan mereka. Padahal idealnya, kemajuan pembangunan diukur pada sejauhmana kesejahteraan warganya. Orang miskin dan anak terlantar yang terjaminkan dalam UUD 1945, wajib dilindungi dan dipelihara oleh negara, kok malah justru digusur. Dimanakah hati nurani mereka?”.


Mencermati isi kalimat-kalimatnya, sebagai wakil rakyat, saya merasa tertampar olehnya. Sepertinya ia juga belum paham kalau yang menemukan dirinya dan peduli membawanya ke rumah sakit, dan sekarang ada di depan matanya saat ini, tak lain adalah salah satu dari wakil rakyat dimana mereka mengajukan aspirasi, bahkan mereka sandera petang tadi.

Ia perempuan cukup cantik, berkulit putih, lesung pipit dan berpostur tinggi besar, tapi sepertinya ia begitu idealis. Kokoh dan kekar. Ia benar-benar perempuan petarung.


”Lalu siapa bapak sebenarnya, yang begitu baik mau menolong Rizka?”


Baru saja aku ingin menjawab. Siapa aku. Statusku sebagai wakil rakyat yang mereka sandera siang hingga petang tadi. Menjelaskan dimana menemukan dirinya. Bagaimana ia kuantar ke rumah sakit ini. Tapi tiba-tiba, serombongan orang-orang datang teriak marah-marah. Menyerbu begitu saja masuk ruangan perawatan ini. Mereka tidak tau soal sebenarnya, hanya tau dari sms Rizka kalau ia ada di rumah sakit ini karena terluka. Mereka menuduhku orang yang telah melukai Rizka, memar dan berdarah. Meski Rizka coba menjelaskan, tapi mereka tidak mau tau.


Mereka marah kepadaku. Mereka mengata-ngataiku dengan bahasa kotor. Mereka menuding-nudingku dengan telunjuknya secara geram. Mereka serasa ingin menerkanmu segera.

Aku berupaya membela diri. Aku berusaha menghindar dari tudingan mereka. Aku berupaya menangkis serangan fisik mereka. Sekuat-kuatnya aku coba melawan, tapi mereka terlalu banyak. Aku serasa tak kuat lagi. Mereka terlalu banyak untuk kuladeni secara fisik. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kucoba dan berupaya memilih untuk meloncat lewat jendela samping.


***


Aku terjatuh. Kakiku sakit. Serasa perih. Perih sekali. ”Tolooooong....!”.


Aku pun segera terbangun dari tidur. Bergegas ke kamar mandi. Sholat subuh. Dan segera berpakaian jas lengkap. Songkok hitam melekat pula di kepala. Beruntung saja aku bermimpi, andai tidak, mungkin saja hari ini aku telat menghadiri pelantikanku hari ini sebagai Anggota DPRD Sulawesi Selatan.


Saat sekarang ini, dan sekarang ini juga. Aku tengah tegak berdiri. Bersama 74 orang lainnya. Mulut dan hatiku mengucapkan sumpah dan janji sebagai wakil rakyat. Tapi ingatanku masih saja tetap diselimuti bayang-bayang mimpiku semalam. Mimpi tentang perempuan petarung dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.


Makassar, 14 September 2009