In Memoriam H. Andi Hasan Opu TohattaSELAMAT JALAN GURU POLITIK
Oleh Armin Mustamin Toputiri
Pada hari Sabtu, 01 November 2009, bertepatan detik-detik peringatan HUT dan pengukuhan pengurus baru DPP Partai Golkar, kabinet Aburizal Bakrie, di arena PRJ Jakarta, juga bersamaan dengannya berpulang ke rahmatullah, Ketua DPD II Partai Golkar Luwu Utara, H. Andi Hasan Opu Tohatta. Seorang tokoh senior Partai Golkar yang cukup disegani para politisi di tana Luwu, bahkan di wilayah Sulawesi Selatan sekalipun. Selain di-”tua”-kan, juga menjadi bagian dari guru politik yang sangat dihormati. Demikian sehingga kepergiannya, banyak orang merasa kehilangan.
Secara pribadi, meskipun tidaklah pernah mendidik saya secara formal tentang strategi dan kalkulasi politik, tetapi secara non formal --- di internal Partai Golkar khususnya --- diam-diam sungguh saya terlalu banyak mendapatkan pembelajaran politik yang sangat berharga darinya. Tidak saja dari petuah dan perkataannya, tetapi juga dari sisi prilaku dan praktek, bahkan pada strategi dan cara-cara almarhum mensikapi sejumlah persoalan politik. Seremeh dan segenting apa dan bagaimanapun keadaannya. Kalau sudah menyangkut harkat dan martabat, lebih-lebih kalau apa yang ia yaqini kebenarannya, sejengkal sekalipun ia tak akan mundur.
Demikian juga pada sisi yang lain, sebaliknya ia pula memiliki suatu kemampuan berlebih untuk mencari solusi dan mempertemukan jalan tengah atas suatu situasi yang pelit. Dengan kharisma dan bermodal ke-”bapak”-annya, ia mampu memberi tawaran-tawaran solutif sebagai titik temu kompromi yang dapat menguntungkan semua pihak. Tentu saja dua sisi kepiawaian almarhum dalam praktek politik bukan suatu yang serta merta, tetapi kepiawaian itu tentu saja adalah akumulasi dari perjalanan panjang lika-liku pahit, manis dan getirnya pertarungan politik yang telah ia dijalani sampai ajal menjemputnya sekalipun.
Lantaran perjalanan panjang itulah, sehingga sungguh begitu banyak kisah perjalanan hidup yang tidak menutup kemungkinan --- langsung atau tidak langsung --- menjadi bagian dari diri kita sendiri juga ada di dalamnya dan menjadi bagian darinya, yang oleh almarhum lewati dan ditinggalkannya. Cikal bakal awal mula pemekaran wilayah Tana Luwu, yang kini menjadi empat wilayah pemerintahan daerah otonom, dan menjadi bagian dari kehidupan seluruh masyarakat Tana Luwu saat ini, juga tak lepas dari bagian penting atas sikap politik almarhum. Belum lagi jika menyebut rangkaian kebijakan politik pemerintahan dan sosial kemasyarakatan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Tentu saja tidaklah keseluruhan sikap politik almarhum dapat diungkapkan secara terbuka. Sebagaimana ia pernah berpesan ketika saya menawarinya untuk menuliskan biografi politiknya dalam sebuah buku dengan judul yang telah saya siapkan. ”Andi Hasan: Tokoh Pejuang Empat Zaman” (Era Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi). ”Biarlah sejarah kelak yang mencatat apa yang telah saya perbuat. Saya serahkan pada generasi penerus untuk merenungkannya. Terserah saja, apakah generasi berikut nantinya mau menuliskannya dalam tinta putih, hitam ataukah tinta merah sekalipun”, ujarnya kala itu.
Salah satu diantara yang menurut almarhum patut direnungkan bagi generasi berikut. Dimana hingga akhir hayatnya, sepanjang pengetahuan saya, meskipun mungkin secara substansial telah dijelaskannya kepada beberapa pihak, tetapi setahu saya ia tak pernah mengungkapkan apa rahasia dibaliknya terhadap sikap politik almarhum dalam menghadapi ”rongrongan” banyak kalangan terhadap upaya pembentukan Propinsi Tana Luwu, yang oleh banyak kalangan --- hingga akhir hayat almarhum --- masihlah tetap misteri, sehingga cenderung berindikasi multi tafsir dan bahkan berindikasi kontroversial. Ketika hal itu pernah saya tanyakan pada almarhum, ia hanya menjawabnya dengan senyumannya yang khas.
Sudah sedemikian keadaannya, sehingga kepergian almarhum menghadap Sang Khaliq, memang masihlah menyimpan terlalu banyak catatan-catatan panjang yang tak terungkapkan secara terbuka. Sebabnya karena ia adalah bagian utama dari secara panjang Tana Luwu itu sendiri. Tidak saja selaku penyimpan sejarah, tetapi pada dirinya adalah bagian dari sejarah Tana Luwu itu sendiri. Tak lain karena ia menjadi bagian dari pergolakan kehidupan empat orde (Era Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi), karena meski usianya sudah terbilang renta, tetapi sebagai veteran pejuang kemerdekaan, semangatnya tak pernah surut untuk terus mengabdikan jiwa dan raganya bagi bangsa dan negaranya.
Terhadap sikap mental dan semangat kejuangan itu, secara pribadi meskipun tidaklah terlalu sebegitu dekat dengannya, tetapi saya termasuk orang yang paling sering mendapat ”cercaan” dari almarhum yang saya memandangnya sebagai wejangan dari orangtua sendiri. Sebagaimana diketahui kepribadian almarhum sangat tidak menyukai sikap generasi muda yang bermental apatis dan tidak berani menghadapi tantangan. ”Kalian generasi sekarang jangan jadi generasi yang bermental masa bodoh dan penakut. Saatnya tugas kalian untuk mengisi kemerdekaan ini dengan karya-karya kalian yang berharga. Tidak akan pernah matahari terbenam di ufuk barat jika memang belum sampai waktunya”, pesan almarhum suatu waktu pada saya.
Makanya ketika mendengar ”Opu Tua” (demikian saya ikut menyebut penamaan yang akrab baginya) berpulang kerahmatullah, selain muncul rasa sedih kehilangan seseorang yang sangat saya hormati dan terlanjur menjadikannya sebagai guru politik, tetapi yang paling sangat disayangkan karena tawaran saya untuk menuliskan buku biografi untuk almarhum tidak dapat terealisir hingga ajal menjeputnya. Itu artinya bahwa masyarakat Tana Luwu dan bahkan mungkin masyarakat Sulawesi Selatan telah kehilangan sebuah kisah dan fakta sejarah yang otentik dari nara sumbernya yang asli. Selain pemilik sejarah, juga adalah pelaku sejarah itu sendiri.
Selamat jalan guru politik. Ajaranmu tak akan pernah lekang dikikis masa. Namamu abadi di hati sanubari kami. ”Allahummagfir lahuu warhamhu wa ’aafihii wa’fu ’anhu wa akrim nuzulahuu wa wassi’ madkhalahu waghsilhu bil-maa’i wats-tsalji wal-barad”
Sumber tulisan: Harian Palopo Pos, 05 November 2009
Reference:
Nama lengkap, H. Andi Hasan Opu Tohatta, Lahir di Malili, 31 Desember 1927, domisili Jl. A. Djemma 92 Malili, Luwu Timur, Sulsel, beristerikan St. Harifa (almarhum) dan 10 orang putra-putri. Ia mengenyam pendidikan di Sekolah Vervole (setingkat SD) di Makassar (1947), SMP di makassar (1951) dan SMA bagian C di Makassar (1995). Ia bergabung di Sekber Golkar Pusat (1968) dan bertugas sebagai Ketua Korwil Golkar Luwu (1971-1987). Setelahnya sebagai Wakil Ketua Golkar Luwu (1987-1989), Ketua Golkar Luwu (1989-1999), Ketua Partai Golkar Luwu Utara (1999-2003) dan Ketua Partai Golkar Luwu Timur (2003-hingga wafat). Pernah bekerja sebagai Kepala Kantor Agraria Kab. Gowa, Jeneponto dan Takalar. Kemudian terlibat di arena politik sebagai Wakil Ketua DPRD Luwu (1997-1999), Ketua DPRD Luwu Utara (1999-2004) dan Ketua DPRD Luwu Timur (2004-hingga wafat)


