MENYIKAPI MITOS DI SEKELILING KITA
Oleh Armin Mustamin Toputiri
Suatu kali penerbangan --- lantaran telat keburu waktu tiba di bandara --- dengan tergopoh saya memasuki body pesawat. Depan pintu, seorang pramugari menjegat, menanyai nomor kursi mana saya harus duduk. Sontak saya jawab, di kursi 13-C, sambil menyodor boarding past padanya. Mendengar jawaban saya, sontak pramugari itu tersenyum dikulum, lalu mengantar dan menyilahkan saya duduk di kursi 18-C, bukan 13-C, seperti tadi saya jawab.
Setelah duduk dan memasang safety bealt, saya masih saja tetap penasaran pada senyuman pramugari berparas ayu itu. Ketika pesawat telah menjelajahi angkasa, saya iseng bertanya pada seorang laki-laki yang duduk berbanjar samping kursi saya. Seorang dosen muda salah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Setelah menceritakan secara rinci kejadiannya, sang dosen yang sejak tadi asyik membaca buku itu, bukan lagi tersenyum, tapi tertawa lebar.
Saatnya saya makin penasaran. Masih dengan mimik heran, dalam benak saya bertanya-tanya, adakah kelakuan saya yang salah dengan pramugari itu. Dimana letak kekeliruannya?. Masih dengan mimik tawa yang tersisa, dosen muda itu menjelaskan kalau pada pesawat udara manapun, tidak sekalipun pernah menyiapkan kursi bernomor 13. Dari urutan kursi 12 langsung melompat ke kursi nomor 14. Kekeliruan saya tadi karena menyebut kursi 13-C.
***
Kenapa mesti demikian?. Dosen muda itu menjelaskan jika memang demikian kenyataan banyak dianut --- bukan saja di wilayah nusantara tapi sentaro jagat dunia ini --- kalau bilangan angka 13 di-“yaqini” adalah angka “sial”. Karena itu, penomoran ini banyak dijauhi beberapa kalangan. Tak percaya, bukan saja pada nomor urut kursi pesawat udara, tapi juga coba cermati jika masuk lif gedung pencakar langit, penomoran untuk lantai 13 pun tak ada.
Saya tidak habis percaya, hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang kota, orang modern, bahkan dunia internasional, kaum profesional dan kaum terdidik, ternyata juga masih ikut percaya (bahkan menyaqini) pemahaman seperti itu. Maksud saya, bukankah golongan orang-orang dimaksud telah mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang sudah jauh berlebih, sehingga lebih mengedepankan akal pada hal-hal yang sifatnya logik, bukan pada takhyul.
Kalau orang kampung macam saya, mungkin tak perlu dijadikan soal, karena saya di didik dari kampung dengan ragam macam paham dari takhyul. Di kampung saya, jumlah sekolah masih terbatas, belum banyak kaum terdidik, wawasan terbatas, lebih mengedepankan rasa dibanding rasio. Phisiko bukan logika. Di kampung saya lebih banyak di didik ajaran berdasar isyarat-isyarat alam. Mungkin itu yang dimaksud kaum terdidik sebagai kearifan lokal.
***
“Itu hanya mitos”, kata dosen muda samping kursi saya. Lanjut dijelaskan panjang lebar, bahwa tak dapat dipungkiri kalau mitos memang masih kuat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Ada yang masih percaya, juga ada yang tidak lagi. Biasanya tergantung pada bukti pembenarannya. Tak lain karena mitos memang bersumber dari banyak terbukti kejadiannya. Tidak terlepas, saling terkait dari kisah kejadian sebelum-sebelumnya.
Panjang lebar secara teoritis dosen muda itu menjelaskan. Bahwa menurut pengertian kamus, mitos adalah cerita tentang orang, dewa-dewa, atau makhluk luar biasa zaman dahulu yang dinilai segolongan masyarakat sebagai kisah benar. Selanjutnya dijadikan suatu kepercayaan mutlak untuk dijadikan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dijadikan suatu dogma suci, sehingga patut dihormati dan dijunjung. Jika tidak bisa kualat, kena bala.
Meski disembunyi, tapi saya tahu, dosen muda itu sedikit tertatih meyaqinkan paham pada saya. Sebabnya ia pun sadar kalau pengertian mitos sedikit sulit untuk diurai. Terkait kajian filsafat dan teologis. Dan ia pun sadar jika alam semesta ini memiliki bahasa sendiri. Bahasa alam melalui isyarat-isyarat. Bahasa tidak terucap. Juga tidak tertulis. Hanya bisa dipaham dan dimengerti melalui kearifan lokal. Seperti kearifan orang-orang di kampung saya.
***
Setelah panjang lebar dosen muda itu menjelaskan, di atas pesawat ia menikmati tidurnya. Dan saya memilih meneruskan bacaan buku ditulis Firdaus Syam. “Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmokmo” (Gramedia, 2009). Harmoko menjelaskan, dirinya sangat sulit masuk akal soal rahasia alam. Berdasarkan pengalamannya sebagai Ketua MPR/DPR yang mengetukkan palu sidang yang patah saat Sidang Paripurna, 11 Maret 1998 silam.
Kala itu Harmoko mengetukkan palu untuk memutuskan Soeharto resmi ditetapkan sebagai Presiden RI untuk ketujuh kalinya. "Begitu palu sidang saya ketukkan, kepala palu sidang tiba-tiba saja patah dan terlempar jauh ke depan", tutur Harmoko. Dan sejak saat itulah Harmoko tersadar dan mengaku menyadari bahwa kejadian itu adalah isyarat alam. Sudah bisa diterka bakal ada konsekuensi akan kejadian luar biasa bakal terjadi sesudahnya.
Menyadari isyarat alam akan konsekuensi dari kejadian hari itu, saat itu juga Harmoko langsung minta maaf kepada Soeharto. Meski dimaafkan, tapi Harmoko tetap berfirasat buruk, bakal ada terjadi sesuatu. Firasat itu menjadi nyata. Tepat 70 hari setelah hari itu, 21 Mei 1998, Soeharto pun lengser dari kursi Presiden RI yang ditetapkan dari palu sidang yang patah. Perjalanan kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden patah di tengah jalan.
***




