07 Maret, 2011

Menyikapi Mitos


MENYIKAPI MITOS DI SEKELILING KITA

 

Oleh Armin Mustamin Toputiri

 

Suatu kali penerbangan --- lantaran telat keburu waktu tiba di bandara --- dengan tergopoh saya memasuki body pesawat. Depan pintu, seorang pramugari menjegat, menanyai nomor kursi mana saya harus duduk. Sontak saya jawab, di kursi 13-C, sambil menyodor boarding past padanya. Mendengar jawaban saya, sontak pramugari itu tersenyum dikulum, lalu mengantar dan menyilahkan saya duduk di kursi 18-C, bukan 13-C, seperti tadi saya jawab.

Setelah duduk dan memasang safety bealt, saya masih saja tetap penasaran pada senyuman pramugari berparas ayu itu. Ketika pesawat telah menjelajahi angkasa, saya iseng bertanya pada seorang laki-laki yang duduk berbanjar samping kursi saya. Seorang dosen muda salah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Setelah menceritakan secara rinci kejadiannya, sang dosen yang sejak tadi asyik membaca buku itu, bukan lagi tersenyum, tapi tertawa lebar.

Saatnya saya makin penasaran. Masih dengan mimik heran, dalam benak saya bertanya-tanya, adakah kelakuan saya yang salah dengan pramugari itu. Dimana letak kekeliruannya?. Masih dengan mimik tawa yang tersisa, dosen muda itu menjelaskan kalau pada pesawat udara manapun, tidak sekalipun pernah menyiapkan kursi bernomor 13. Dari urutan kursi 12 langsung melompat ke kursi nomor 14. Kekeliruan saya tadi karena menyebut kursi 13-C.

***

Kenapa mesti demikian?. Dosen muda itu menjelaskan jika memang demikian kenyataan banyak dianut --- bukan saja di wilayah nusantara tapi sentaro jagat dunia ini --- kalau bilangan angka 13 di-“yaqini” adalah angka “sial”. Karena itu, penomoran ini banyak dijauhi beberapa kalangan. Tak percaya, bukan saja pada nomor urut kursi pesawat udara, tapi juga coba cermati jika masuk lif gedung pencakar langit, penomoran untuk lantai 13 pun tak ada.

Saya tidak habis percaya, hanya bisa geleng-geleng kepala. Orang kota, orang modern, bahkan dunia internasional, kaum profesional dan kaum terdidik, ternyata juga masih ikut percaya (bahkan menyaqini) pemahaman seperti itu. Maksud saya, bukankah golongan orang-orang dimaksud telah mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang sudah jauh berlebih, sehingga lebih mengedepankan akal pada hal-hal yang sifatnya logik, bukan pada takhyul.

Kalau orang kampung macam saya, mungkin tak perlu dijadikan soal, karena saya di didik dari kampung dengan ragam macam paham dari takhyul. Di kampung saya, jumlah sekolah masih terbatas, belum banyak kaum terdidik, wawasan terbatas, lebih mengedepankan rasa dibanding rasio. Phisiko bukan logika. Di kampung saya lebih banyak di didik ajaran berdasar isyarat-isyarat alam. Mungkin itu yang dimaksud kaum terdidik sebagai kearifan lokal.

***

“Itu hanya mitos”, kata dosen muda samping kursi saya. Lanjut dijelaskan panjang lebar, bahwa tak dapat dipungkiri kalau mitos memang masih kuat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Ada yang masih percaya, juga ada yang tidak lagi. Biasanya tergantung pada bukti pembenarannya. Tak lain karena mitos memang bersumber dari banyak terbukti kejadiannya. Tidak terlepas, saling terkait dari kisah kejadian sebelum-sebelumnya.

Panjang lebar secara teoritis dosen muda itu menjelaskan. Bahwa menurut pengertian kamus, mitos adalah cerita tentang orang, dewa-dewa, atau makhluk luar biasa zaman dahulu yang dinilai segolongan masyarakat sebagai kisah benar. Selanjutnya dijadikan suatu kepercayaan mutlak untuk dijadikan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Dijadikan suatu dogma suci, sehingga patut dihormati dan dijunjung. Jika tidak bisa kualat, kena bala.

Meski disembunyi, tapi saya tahu, dosen muda itu sedikit tertatih meyaqinkan paham pada saya. Sebabnya ia pun sadar kalau pengertian mitos sedikit sulit untuk diurai. Terkait kajian filsafat dan teologis. Dan ia pun sadar jika alam semesta ini memiliki bahasa sendiri. Bahasa alam melalui isyarat-isyarat. Bahasa tidak terucap. Juga tidak tertulis. Hanya bisa dipaham dan dimengerti melalui kearifan lokal. Seperti kearifan orang-orang di kampung saya.


***

Setelah panjang lebar dosen muda itu menjelaskan, di atas pesawat ia menikmati tidurnya. Dan saya memilih meneruskan bacaan buku ditulis Firdaus Syam. “Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmokmo” (Gramedia, 2009). Harmoko menjelaskan, dirinya sangat sulit masuk akal soal rahasia alam. Berdasarkan pengalamannya sebagai Ketua MPR/DPR yang mengetukkan palu sidang yang patah saat Sidang Paripurna, 11 Maret 1998 silam.

 

Kala itu Harmoko mengetukkan palu untuk memutuskan Soeharto resmi ditetapkan sebagai Presiden RI untuk ketujuh kalinya. "Begitu palu sidang saya ketukkan, kepala palu sidang tiba-tiba saja patah dan terlempar jauh ke depan", tutur Harmoko. Dan sejak saat itulah Harmoko tersadar dan mengaku menyadari bahwa kejadian itu adalah isyarat alam. Sudah bisa diterka bakal ada konsekuensi akan kejadian luar biasa bakal terjadi sesudahnya.

Menyadari isyarat alam akan konsekuensi dari kejadian hari itu, saat itu juga Harmoko langsung minta maaf kepada Soeharto. Meski dimaafkan, tapi Harmoko tetap berfirasat buruk, bakal ada terjadi sesuatu. Firasat itu menjadi nyata. Tepat 70 hari setelah hari itu,  21 Mei 1998, Soeharto pun lengser dari kursi Presiden RI yang ditetapkan dari palu sidang yang patah. Perjalanan kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden patah di tengah jalan.

***

 

Pada kejadian lain. Saat Musyawarah Pimpinan Paripurna Pemuda/KNPI 2008 di Pekanbaru, Riau, sidang berlangsung ricuh. Pimpinan sidang dikeroyok dan dianiaya. Selaku Wakil Koordinator SC, saya harus tampil mengambil alih sidang. Meski di bawah tekanan dan ancaman, saya tetap mengetukkan palu sidang untuk menolak pergantian Ketua Umum DPP KNPI di tengah jalan. 

 

Palu sidang saya ketukkan keras, patah terpotong dua. Tiga bulan sesudahnya Kongres dan Kepemimpinan DPP KNPI terbelah dua. Apakah ini juga adalah mitos atau kearifan lokal, bagian dari bahasa alam?

 

Makassar, 14 Pebruari 2011

Logika Terbalik

LOGIKA TERBALIK “CACIAN” 

KEPEMIMPINAN DAERAH

 

Oleh Armin Mustamin Toputiri

 

Suatu kali, di akhir Juli dan awal Agustus 2007, ketika mengunjungi negeri sakura Jepang, di  kamar hotel saya benar-benar dikejutkan --- bahkan hingga kini tinggal melekat di benak saya menjadi suatu kesan yang tak terlupakan --- ketika menyaksikan tayangan iklan sebuah produk pada salah satu saluran televisi di negeri yang dikenal “Singa Asia” itu.

 

Penyajian iklan saya maksud, begitu sederhana. Bahkan jauh sangat sederhana dibanding penyajian iklan sejumlah produk yang ditayangkan stasiun televisi di Indonesia. Iklan itu hanya menampilkan gambar seorang Bapak bersama isterinya duduk di kursi sofa. Keduanya membaca koran berbeda. Tak cukup lama, si Bapak meremas koran dibacanya, lalu di buang ke kotak sampah. Isterinya penasaran, koran yang sudah diremas suaminya diambil dan di baca. Sontak kamera menyorot nama koran dimaksud.

 

Iklan tanpa dukungan kata-kata dan suara itu, selesai hanya sampai di situ. Saya benar-benar dibuat penasaran. Esok paginya, saya menyeberangi jalan menuju kedai mini market. Saya membeli satu eksemplar koran berbahasa Jepang seperti iklan saya saksikan di layar televisi semalam. Dan ketika membayar di kasir, perempuan cantik (khas Jepang) itu memandangi saya, tersenyum geli. Saya kurang paham apa kira maksud senyumannya.

 

***

 

Kurang lebih, kira-kira seperti itu ilustrasi saya kemukakan sebagai pengantar pembicaraan malam tadi di salah satu Warung Kopi (baca: cafe) di Makassar, ketika dipercaya menjadi salah satu --- diantara bertiga --- membedah buku, “Meniti Ombak Pemerintahan Berbuih Cacian” (Tahun Awal Bupati Andi Mudzakkar Membangun Luwu). Buku setebal 228 + xxiv halaman ini, ditulis kolega terbaik saya, Asdar Muis dan kawan-kawannya.

 

Saya memilih ilustrasi kisah tayangan iklan di negeri Jepang, sebagai pengantar, tak lain karena saya tergelitik selipan kata “cacian” pada judul buku yang dibedah. Meski jauh hari sebelumnya, penulis buku ini sudah menyampaikan rencana judul buku ditulisnya ini kali, saya tak percaya. Tapi setelah buku terbit dan tiba di tangan saya, kolega saya yang tulen seniman itu, tak main-main dengan rencana judul bukunya. Nyata dan berbukti.

 

Kenapa saya tergelitik, bukannya ketika membuka lembar demi lembar dari 30 sub judul topik diurai, tak sekalipun ditemukan “cacian”, sendirinya tentu tak ditemukan siapa pencaci. Kalaupun ada, hanyalah sebatas harapan-harapan masyarakat kepada pemimpin mereka. Tapi membuat saya tergelitik, karena pilihan kata “cacian” adalah suatu yang tak lasim jadi judul buku. Terlebih lagi, buku diadakan atas kehendak orang yang mau ditulis.

 

***

 

Ketergelitikan pada selipan kata “cacian” pada judul buku dimaksud, ternyata tidak hanya sebatas menghampiri benak saya, tetapi juga dua pembedah lainnya, yang tak lain keduanya akademisi bergelar doktor. Satunya pengajar ilmu komunikasi dan satunya lagi pengajar manajemen pembangunan. Ketika babakan dialog berlangsung, respon audience, pun juga sama. Terjebak mempersoalkan kata “cacian”, meleset jauh dari substansi uraian isi buku.

 

Audience yang hadir dari beragam disiplin ilmu dan profesi. Mulai dari Guru Besar bergelar profesor sampai yang masih berstatus mahasiswa. Mulai dari aktifis LSM, kontraktor, hingga pejabat eksekutif tertinggi. Praktis karena itu, sendirinya beragam pandangan pun ikut bertaburan. Mulai dari soal etika kata “cacian” yang dinilai tidak pantas ditujukan pada pemimpin, sampai pada tawaran kata yang lebih seharusnya tepat menjadi judul buku itu.

 

Terlepas dari semua itu, saya yang ikut terjebak -- pada judul buku dan bukan pada isi buku --- lebih tertarik melihatnya bahwa kalaulah kata “cacian” menurut ukuran umum tidak tepat, tapi menariknya karena subjek orang yang ditulis juga tidak menjadikannya suatu soal. Tak mungkin buku ini bisa terbit, tanpa karena ia setuju. Terlebih lagi, ketika buku ini semalam di bedah, ia Bupati duduk di kursi depan, tekun menyimak semua tanggapan.

 

***

 

Sebagaimana bukan kebiasaan saya mengatakan sesuatu berlebih dari semestinya, tapi Bupati yang ini kali menakhodai sebagian wilayah bekas kerajaan tertua di Sulawesi Selatan ini, yang tak lain salah satu putra “pejuang-pemberontak” (meminjam istilah sejarawan Anhar Gonggong) Abdul Qahhar Mudzakkar yang kharismatik itu, memang dikenal bersahaja dan betah keritik, makanya ia sedikitpun tak mempersoalkan pilihan kata “cacian” itu.

 

Sebab karena itu, saya kemukakan bahwa anggap saja “cacian” itu memang ada. Jika tidak ada, seandainya perlu “cacian” itu diadakan saja. Sebab hadirnya “cacian”, pemimpin akan menjadi lebih bijak dan kuat. Saya kemukakan kisah pembelajaran bijak dari Lukmanul Hakim. Suatu waktu berdua putranya melintasi kampung berkendara unta. Masyarakat mencacinya karena dinilai tidak berperasaan pada hewan unta membawa beban ia berdua.

 

Karena itu Lukmanul Hakim memilih berjalan bersama putranya tanpa menunggang unta. Ia pun dicaci, betapa bodohnya berjalan tanpa berkendara unta. Karenanya anaknya dinaikkan ke punggung unta, ia memilih berjalan mengiringi. Putranya pun dicaci, membiarkan orang tuanya berjalan sendiri, sementara ia menunggang unta. Lukmanul Hakim akhirnya naik ke punggung unta, putranya berjalan. Tapi sekali lagi dicaci, karena tak ada rasa kasian pada anaknya yang berjalan. Terakhir, ia menyebelih unta itu, dagingnya dibagikan masyarakat.

 

****

 

Setiap pemimpin memang tak lepas “cacian”. Serba salah. Makanya ketika siang ini saya mengingat-ingat acara bedah buku malam tadi. Nyaris semua terjebak kajiannya --- saya termasuk diantaranya --- pada selipan kata “cacian” judul buku itu. Saya senyum-senyum sendiri. Seolah meniru senyuman perempuan cantik -- khas Jepang -- di mini market depan hotel di Kota Tokyo. Senyuman itu kira-kira mengisyaratkan, kalau saya salah satu “korban” dari logika terbalik. Logika pembuat iklan koran di Jepang, sekalian logika penulis buku ini.

 

Makassar, 20 Pebruari 2011

Anak Kampung


ANAK KAMPUNG YANG

PANTANG  MENYERAH

 

Oleh Armin Mustamin Toputiri

 

Suatu kali saya menuliskan “catatan” di halaman Facebook saya, tentang bagaimana rumitnya liku perjalanan hidup saya lalui. Sejak beranjak masa kanak-kanak di kampung nun jauh --- 350 km jaraknya dari Kota Makassar --- sana, hingga menapaki pertaruhan integritas diri sebagai seorang anak muda di ibukota Propinsi Sulawesi Selatan sini. Sontak seorang anak muda yang cukup saya kenal, memberi respon dengan catatan-catatan komentar.

 

“Saya terharu membaca tulisan ini. Mengingatkan bagaimana pula masa kanak-kanak saya hingga tamat SMA, di kampung”, tulisnya. “Mending senior saya yang menuliskan kisah hidupnya ini, kampungnya tak jauh dari ibukota kabupaten. Kalau saya, di pelosok terpencil, lereng pegunungan. Setiap pagi dan sore, pergi pulang sekolah, jika bukan jalan kaki, naik sepeda. Bahkan ikut numpang mobil pick-up angkutan jualan sayur ke pasar”, lanjutnya.

 

Benar apa komentar ditulisnya di halaman Facebook saya. Ia berasal sedaerah dengan saya. Tapi kampungnya sungguh nun jauh di pelosok terpencil --- 30-an kilometer jauh jaraknya dari jalur jalan protokol propinsi --- di lereng pegunungan Latimojong, satu diantara gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Mendapatkan kampungnya, harus melintasi pegunungan dan menyeberangi sejumlah sungai tanpa jembatan, kalau pun ada, hanya berbatang kelapa.

 

***

 

Suatu kali ketika anak muda itu bertindak me-moderatori saya saat memberi pembekalan peserta Rakerda KNPI Kota Makassar, dari meja persidangan, saya iseng mencandainya di hadapan teman-temannya. “Eh, asal kalian tahu saja, jika melihat kampung kelahiran sang moderator ini, sungguh saya tidak pernah habis fikir, kira-kira darimana ia bisa mengenal organisasi macam KNPI ini”. Sontak seluruh peserta Raker tertawa ngakak, juga dirinya.

 

Saya berani mencandainya seperti itu, tak lain karena anak muda yang satu ini, selain tidak “neko-neko”, juga memang cukup dekat dengan saya. Meski tidak intens bertemu, tapi mungkin karena persamaan nasib sebagai sesama orang kampung yang sedang mengarungi pertaruhan hidup di kota, tak sadar dan tanpa diatur, kami pun selalu bersua membicarakan sejumlah soal. Mungkin lebih tepat menyebutnya, bersua saling mengadukan nasib.

 

Saya ingat suatu kali, beberapa tahun lalu, ketika saya masih terlibat sebagai Sekretaris KNPI Sulawesi Selatan, secara tiba-tiba ia datang menemui saya. Menariknya karena ia datang khusus hanya untuk menyampaikan kritiknya pada saya yang tanpa tedeng aling-aling. Menurut pantauannya, dalam bercakap saya sering terlalu terbuka, bahkan katanya sudah telanjang. “Itu sangat beresiko senior, dalam posisi senior bukan siapa-siapa”, ujarnya.

 

***

 

Sepuluh tahun lalu, kami memang bagian dari penduduk Kota Makassar yang berstatus "gelandangan", dalam arti tanpa ekerja dan pendapatan jelas. Tapi patut disyukuri, karena kami selalu saling mengingatkan agar tidak sekali-kali “menjual diri” hanya karena untuk mendapat sesuap nasi. “Sekejamnya hidup ini, tapi tak seorang pun manusia di muka bumi ini, meninggal dunia hanya karena tak mendapatkan makan, terkecuali karena ia malas”.

 

Kira-kira demikian prinsip kami pegang, sehingga sekalipun sudah benar-benar terseok, tapi tak pernah pesimis, tetap saja selalu penuh optimistik. Memperbanyak belajar pada siapa saja untuk memperkuat wawasan. Memperbanyak terlibat organisasi untuk memperluas perkawanan dan jaringan. Mau tidak mau, dua soal itu harus dijalani secara tekun, tak lain maksudnya, karena kami orang kampung, sadar memiliki wawasan dan pergaulan terbatas.

 

“Tuhan tidak bodoh. Tuhan tidak buta. Tuhan tidak tuli. Tuhan maha tahu, maha melihat dan maha mendengar apa usaha dan kerja keras hambaNya. Sungguh keterlaluan kalau kita sudah berdaya upaya, lalu Tuhan tidak mengabulkan”. Demikian prinsip kedua selalu kami pegang sebagai pelecut semangat untuk pantang menyerah. Teringat selalu pesan orangtua saat meninggalkan kampung, “tak akan lahir pelaut ulung di laut yang tenang”.

 

***

 

Suatu kali, dua hari bertut-turut, pagi dan sore, saya mampir di salah satu warung kopi di Makassar sini. Setiap kali datang, setiap itu pula bertemu anak muda sekampung saya itu. Bisa diduga, sejak pagi hingga jelang malam begini, ia ada di warung kopi itu bermain catur. Saya terusik dan keras menegurnya. “Meski kita pengangguran, tapi juga janganlah memperjelas diri di mata publik. Pergilah cari aktifitas apa saja yang lebih produktif”.

 

Entah karena tak senang teguran saya yang keras, sejak itu ia lama menghilang tanpa pernah bertemu saya lagi. Dan saatnya masa kampanye Pemilu 2009, dengan peluh bercucuran, tergopoh-tergopoh, ia menemui saya di warung kopi yang sama. Anak muda yang pantang menyerah ini, ternyata baru saja datang berkeliling dengan motor bututnya menggalang suara sebagai seorang Calon Anggota Legislatif, pada sebuah Parpol “kecil”.

 

Penuh optimistik ia meyaqinkan saya, jika Pemilu Legislatif kali ini, dirinya pasti akan lolos menduduki satu diantara dari 45 kursi tersedia di DPRD Makassar. Saat itu jujur saya tidak pernah percaya. Apa kapasitas dia orang dari kampung di Kota Makassar sini. Dari mana ia mengambil duit untuk biaya “caleg” yang cukup mahal itu. Terlebih lagi penampilannya menggalang suara hanya bermotor butut. “Adik saya ini sedang bermimpi”, kata benak saya.

 

***

 

Bukan karena ia orang kampung di Kota Makassar ini. Juga bukan karena ia memiliki duit banyak untuk berkompetisi sebagai seorang “caleg”. Tapi karena semangatnya yang pantang menyerah, mimpi menduduki salah satu kursi di DPRD Kota Makassar, telah diraihnya. Status “terhormat” ia telah sandang. Berbekal status itu, saya sarankan segera menikah. Malam kemarin ia melangsungkan pesta pernikahannya di hotel berbintang. Satu diantara tiga tempat pernikahan termewah, di Kota Makassar saat ini.

Di atas pelaminan, dengan canda saya membisiki, “Jika melihat kampung kelahiran ade di pelosok kampung nun jauh di sana. Sungguh saya tidak habis fikir, kira-kira darimana ade bisa mengenal tempat pernikahan semewah ini?”. Ia membalasnya dengan senyuman bahagia.

 

Makassar, 22 Pebruari 2011 

Reaksi "Surat Palsu"

POTRET WAJAH BANGSA DARI REAKSI “SURAT PALSU”

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Sepanjang empat hari terakhir, saya hanya bisa senyum sendiri, geleng-gelengkan kepala. Saya tidak pernah habis fikir, bagaimana mungkin bangsa ini bisa disibukkan oleh sebuah tulisan “surat palsu”. Tulisan yang disusun oleh seseorang yang menamai dirinya “Iman Phurawinata” itu --- saya juga belum tahu apakah nama itu samaran ataukah sebenarnya --- mula awalnya termuat di halaman Cyber Media “Kompasiana.com”, 22 February 2011.

Begitu inspiratifnya ide orang dimaksud, ia membuat sebuah tulisan berbentuk surat atas nama Andi Nurhilda Daramata Asiah Indasari, putri Bapak Nurdin Halid (NH), yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan Andi Seto Gadhysta Asapa, putra Bupati Sinjai, Andi Rudiyanto Asapa. Tulisan dimaksud, berisi seolah-olah pembelaan seorang anak pada ayahnya NH, yang sebulan terakhir dihujat dan diserang demonstrasi sekelompok orang.

Sebagai seorang “kompasianer” (peristilah warga kompasiana.com), saya intens mengikuti gerak laju perkembangan tulisan dimaksud, sejak awal mula dipostingkan. Keistimewaan tulisan dimaksud, karena ia berbeda dari topik yang sama pada sekitar 140-an judul tulisan lain sebelumnya di halaman kompasiana.com, dimana keseluruhannya menghujat habis NH, dan tulisan ini datang justru melakukan pembelaan mengatasnamakan putri kandung NH.

***

Sebab karena itu, semua jadi tersentak, para “kompasianer” sontak memberikan reaksi balik dengan menuliskan komentar, nyaris kesuluruhannya dengan nada emosional. Tercatat mungkin inilah kali sepanjang sejarah kompasiana.com, tulisan paling banyak dikomentari. Hingga pukul 15.00 Wib sore hari ini, sudah 69.428 orang membuka dan membacanya, serta 271 diantaranya memberi komentar. Lantaran itu, halaman ini sudah terlalu berat dibuka.

Tidak sebatas itu, tulisan itu sudah 100-an orang lebih telah men-share-nya ke halaman Facebook dan Twitter masing-masing. Bahkan sejumlah media online semacam detik.com, pun tak mau ketinggalan nilai aktualisasinya, secepat itu juga langsung ikut meramaikannya dengan men-share ke jejaring media masing-masing. Setelahnya, “Iman Phurawinata” sang penulis memberi tulisan klarifikasi, bahwa tulisan itu hanyalah sebatas “prosa satir” saja.

Saking hebohnya, setelah klarifikasi penulisnya, kompasiana.com pun gelapan segera memindahkannya dari “olahraga” ke halaman “fiksi”, meski besoknya media cetak terlanjur telah ikut meramaikan melalui pemberitaan, melengkapi berita terkait yang menghujat (pribadi) NH dan (kelembagaan) PSSI jelang kongresnya. Bahkan menjawab penasaran publik, dua media cetak lokal terkemuka di Makassar, memuat “surat palsu” itu secara utuh.

***

Saya hanya bisa senyum sendiri dan hanya mampu geleng-gelengkan kepala, bukan lantaran iku-ikutan pro atau kontra untuk mau ikut terlibat menghujat atau sebaliknya mau membela NH --- pun kalau mau atau tidak, mestinya alam fikiran harusnya dipisahkan antara alur hujatan pribadi NH satu sisi, dan mekanisme pencalonan Ketua Umum PSSI pada sisi lain --- tapi saya tidak mau masuk ranah itu, saya hanya tergelitik reaksi publik “surat palsu” itu.

Saya berani mengatakan “surat palsu”, didasari pada klarifikasi penulisnya bahwa tulisan yang seolah-olah surat putri NH itu hanyalah “prosa satire” saja. Lalu membuat saya makin senyum sendiri dan gelengkan kepala, kenapa masih banyak saja tetap mengomentarinya secara kasar dan emosional, bahkan ikut dihebohkan sejumlah media terkemuka, dan menjadi bahan perbincangan hangat di ranah publik. Serba lucu dan menggelikan memang.

Sampai batas kelucu-luan itu, malah justru saya membayangkan seandainya NH yang dicaci bahkan dihujat, menyempatkan diri membaca tulisan itu, serta komentar sejumlah orang di halaman kompasiana.com, maka di tengah “kegalauan”-nya menghadapi demo dan hujatan, saya bisa membayangkan, NH pasti akan ikut senyum sendiri membacanya. Tak lain karena bagaimana mungkin orang bisa menghardik pada sebuah isi surat yang nyata-nyata palsu.

***

Meski tidak seberani itu saya mau menyimpulkan, sudah demikiankah cerminan potret wajah bangsa masyarakat kita kini. Jika masih diingat, dan cermat kita mengamati, banyak soal dan konflik sosial di bangsa ini, yang memiliki eskalasi kerugian besar, sebagai fakta. Tidak lebih kurang musababnya hanyalah karena masyarakat kita tidak cermat dan teliti. Kerusuhan Ambon misalnya, menelan korban ratusan jiwa, dipicu karena mis-informasi.

Sebabnya, bangsa ini begitu akrab istilah “provokator”, selain karena kita sering kurang cermat, dan atau justru karena dari ketidakcermatan dan ketidaktelitian itu, provokator terbuka masuk menyusup, bahkan peluang untuk sengaja disusup. Jika mungkin dijadikan “kambing hitam” dan “pengalihan issu”. Tak lain karena kita memang kadang reaktif akan suatu soal tanpa perhitungan. Atraktif tanpa pencermatan. Mudah dihasut dan dibenturkan.

Kenyataan potret wajah bangsa seperti ini, mengingatkan saya pada mendiang almarhum Gus Dur. Ketika suatu kali Mingguan Tempo menurunkan laporan utama novel kontroversial “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie. Sejumlah 100 tokoh berkomentar mengecam penulis novel yang dinilai menghina Nabi Muhammad itu, sedang Gus Dur dengan enteng menanggapinya, “Loh wong, bukunya saja aku belum baca, gimana mau mengomentari”.

***

Di tengah kehidupan warga bangsa --- yang mau saya katakan serba tanggung --- seperti itu, pengaruh perkembangan cyberspace dan telekomukasi informasi mempercepat meluasnya informasi, adalah sebuah konsekuensi lain yang harus ditanggung sebagai pertaruhan akan eksistensi wajah bangsa ke depan. Jatuhnya Zine El Abidin Ben Ali di Tunisia, dan jatuhnya Hosni Mubarak di Mesir, tak bisa lepas dari pengaruh bangunan issu melalui cyber space itu.

Dibalik senyuman dan geleng kepala saya membaca reaksi keras publik terhadap “surat palsu” yang dimuat cyber media, kompasiana.com, saya pun ikut membayangkan, jika pada saatnya nanti, haruskah NH yang terjungkal dari pencalon Ketua Umum PSSI, atau jangan-jangan berujung pada jatuhnya kekuasan pemerintahan yang sah, karena sekelompok orang menilainya --- lewat Menegpora --- telah ikut campur, bukan justru menjadi penengah.

Makassar, 25 Pebruari 2011

01 Desember, 2010

Esei Kekuasaan Mitos

MEMPERKUAT BANGUNAN KEKUASAAN MELALUI MITOS

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Kemarin saya menghadiri undangan Halal bi Halal yang diselenggarakan perusahaan tambang terkemuka, PT. INCO (Internatonal Nikel Indonesia, Tbk), bertempat di Sahid Jaya Hotel Makassar. Bukannya mau mengabaikan uraian hikmah silaturrahim yang disampaikan sangat singkat tapi penuh makna. Juga bukannya mau mengabaikan nikmatnya lagu-lagu “islami” yang didedangkan Dewi Gita. Tapi saya ingin memberi perhatian khusus pada rangakaian syair-syair puisi yang dibacakan seorang penyair senior pada acara malam itu.

Syair dimaksud juga bukannya pada susunan rangkaian kata indah oleh sang penyair. Tapi saya justru terpikat pada kalimat yang dikutipnya dari kitab I Lagaligo (Kitab lontara’ yang mengisahkan peradaban manusia di masa silam, ribuan tahun yang lalu di wilayah bekas Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan). Kalimat yang dikutipnya adalah ucapan peminangan Sawerigading, tokoh utama dalam kitab lontara’ tua itu, kepada kekasihnya We Cudai, yang dalam kitab itu disebut --- tak lain --- saudara kembarnya sendiri yang ia tidak ketahui.

Bersama seorang adik perempuan --- wartawan salah satu media on-line --- yang secara kebetulan saja satu tanah kelahiran dengan saya di Tana Luwu, coba berburu mendapatkan syair dimaksud pada tangan sang penyair. Dan hasil perburuan syair yang dituliskan dalam bahasa Bugis (sastra) begini; "Ubokoriang tana ri Luwu / Upabbeui cajingengnga / Lesajuri bawangngi / Lepangawaru' powolangitta' .... (Kutinggalkan tana Luwu / Kuyatimkan orang yang melahirkanku / Tapi tidak kusesali / Karena takkan kulupakan / Tanah kelahiranku...)

 ***

Kalimat peminangan Sawerigading kepada kekasihnya We Cudai itu, disalin dengan cermat dan sangat baik oleh adik wartawan media on-line itu. Secara berkelakar saya katakan padanya, bahwa sdyair itu adalah kalimat nenek moyang kita, tentu memiliki tuah dan berkah tersendiri. Ujuk-ujuk jangan sampai kalimat itu bisa benilai ganda. Satu sisi syair indah itu karya nenek moyang kita, maka patut diketahui dan dipahami. Sisi lain jangan sampai bisa dimanfaatkan sebagai mantra peminangan. Bahkan mungkin bisa dijadikan mantra pemikat.

Mendengar gurauan saya, adik perempuan si wartawan itu bukannya terkekeh. Malah justru balik memandangi wajah saya penuh tanya dengan senyum ringan yang riang. Sekilas saya menangkap mimik adik ini, seolah ingin mengatakan, “iyya ya.. !“. Maksudnya, ia ingin menyatakan kalau gurauan saya jangan sampai benar adanya. Jangan sampai kalimat ini memang benar mantra penakluk yang banyak diburu petualang cinta. Sebab sepengetahuan saya di tengah masyarakat kita, banyak bertebaran ilmu seperti itu dengan berbahasa Bugis.

Apa sikap adik wartawan itu, dan bagaimana sikap saya --- sesama orang yang dilahirkan di Luwu dimana letak kisah kitab I Lagaligo dinukilkan --- menghadapi kalimat peminangan berbentuk syair itu, sadar atau tidak sadar, jika dicermati sesungguhnya (diam-diam) kami telah terjebak ke dalam dogma. Otak serta alur berfikir dan sikap kami terlanjur memaknai bahwa apapun adanya isi kitab I Lagaligo, adalah suatu yang nyata. Tak lain karena sejak kanak-kanak kami sudah terbiasa didendangkan dolanan syair-syair bijak dari kitab Lagaligo.

***

Sejak kecil orangtua dan tetua kami di kampung telah memindahkan keyaqinan mereka dan telah menancapkan ke dalam otak kami --- sekurang-kurangnya dalam lingkungan keluarga saya --- bahwa apapun yang termaktub dalam kitab I Lagaligo, adalah kisah nyata peradaban nenek moyang kita yang harus dihormati dan di junjung. Dan tokoh utama kitab itu, ialah Sawerigading, adalah cucu dari nenek moyang kita, Batara Guru, yaitu manusia pertama kali datang dari langit dan tiba ke bumi di Ussu’ (wilayah Kabupaten Luwu Timur, sekarang).

Lantaran Batara Guru adalah ”tomanurung”,  manusia pertama kali menginjakkan kaki di bumi ini, otomatis dari sanalah asal usul manusia di muka bumi. Manusia yang ada di Sulawesi Selatan pada khusus dan umumnya. Pada proses perjalanannya selama ribuan tahun lamanya, secara alamiah terjadi proses kawin mawin diantara sesama anak cucu dari turunan Batara Guru itu. Secara biologis dan strata sosial ada yang sudah berbaur, tapi ada pula yang tetap berada pada garis langsung secara biologis dari darah Batara Guru. Merekah itulah para Bangsawan.

Sampai pada titik pemahaman inilah tercipta yang namanya bangsawan dan yang bukan bangsawan. Dan karena para bangsawan itu diyaqini sebagai manusia yang berketurunan langsung dari manusia pertama diturunkan dari langit --- (“tomanurung”, yaitu manusia istimewa turunan para dewa yang ada di atas kayangan --- maka para bangsawan itu patut dihormati dan dijunjung oleh yang bukan bangsawan. Selebihnya kekuasaan pun harus diserahkan pada bangsawan. “Angikko kiraukkaju, riyako miring riyakkeng mutappalireng” (anginlah engkau dan kami daun kayu, kemana engkau berhembus kesana pula kami terbawa)

***

Atas dasar pemahaman yang telah berwujud keyaqinan itu, maka jangan salahkan ketika Qahhar Mudzakkar (tokoh utama DI/TII) di usia mudanya diberi sanksi adat “poppangi tanah” (hukuman meninggalkan wilayah Tana Luwu) karena dinilai menghina bangsawan. Dan jangan salahkan jika ibu kandung saya, ketika ia memarahi saya dan menilai saya  orang yang durhaka pada bangsawan dan adat. Musababnya karena saya berkeinginan memberi nama puteri saya “Tenri Olle” (penulis kitab I Lagaligo). Dalih ibu saya sederhana, penamaan itu hanyalah diperuntukkan kalangan bangsawan saja. Dan keluarga kami bukan bangsawan.

Sejak kemarahan ibu saya, sejak itu pulalah pada diri saya mulai bertumbuh kesadaran baru. Seolah ada unsur baru datang untuk memberontaki diri sendiri. Saya menyadari ada sesuatu yang selama ini menjerat cara pandang saya. Telah ditancapkan secara dalam, seolah telah menyatu dengan diri saya, oleh orangtua saya, tetua dan semua orang-orang di kampung saya. Bahkan di bangsa ini dan jagat ini. Dimanapun di dunia ini yang pernah memiliki kekuasaan sistem monarki, kerajaan, pasti memiliki mitos untuk memperkuat bangunan kekuasaannya.

Pemberontakan pada diri saya sangat sederhana. Bukannya jumud mau memperdebatkan   kisah Lagaligo dalam kitab I Lagaligo, apakah bersumber dari rekaan mitologi yang terserak banyak di tengah masyarakat lalu dirangkum Datu’ Pancana “Tenri Olle” ke dalam satu kitab. Ataukah itu benar kisah nyata. Saya juga tidak mau mendebatkan gadis cantik jelita, We Cudai, apa benar dimaksud turunan Cina-Tiongkok ataukah Cina-Pammana (Wajo). Tapi kalau saya sangat sederhana saja, sekadar hanya mau menanyakan apakah benar dan logik ada manusia turunkan dari langit (kayangan) dan tiba di Ussu’, yang bernama Batara Guru?

***

Sebagai orang yang sedikitnya pernah mendapat pembelajaran pengetahuan agama, sampai batas itulah pula pertanyaan yang menjadi batas-batas penjejakan saya, sebagai bagian dari pemberontakan saya pada diri sendiri terhadap apa yang telah menancap dalam otak serta alur berfikir dan bersikap saya secara dogmatik. Resikonya seperti apa pernah dialami Qahhar Mudzakkar, ibu kandung saya yang menilai saya durhaka, dan bahkan mungkin menimpa seorang adik wartawan dan saya yang mengharap syair peminangan bisa mewujud mantra.

Sambil tetap terus menjejaki jawaban atas pertanyaan sederhana saya tadi. Maka saya pun tidak pernah mau berani menyimpulkan isi kitab I Lagaligo, mitos atau fakta. Makanya saya juga takut terlalu jauh melakukan pemberontakan untuk mengatakan bahwa kisah Lagaligo merupakan bagian dari politik kekuasaan. Dihadirkan sekadar menjustifikasi kekuasaan, agar kekuasaan dapat dipatuhi titahnya, dan para pemegang kekuasaan selalu dijunjung, lantaran dipegang oleh orang-orang yang tak lain adalah para bangsawan, manusia turunan dari langit.

Cara pandang seperti ini --- yang tadi saya katakan pemberontakan --- tidak lebih kurang ikut dijustifikasi penguatannya ketika saya coba menelusuri sejarah sejumlah negara yang dalam sistem ketatanegaraannya masih menganut sistem monarki, yang absolut sekalipun. Bahkan cara pandang saya, tidak dipungkiri kalau ikut dijustifikasi penguatannya dari kunjungan saya pada ragam destinasi objek wisata yang di jual melalui bangunan mitos. Bahkan dijustifikasi dari keterjebakan saya pada mitos kekuasaan melalui bentuk politik pencitraan era sekarang.

***

Benar tidaknya kesemua bangunan-bangunan mitos seperti itu untuk memberi penguatan justifikasi citra jualan melalui bangunan kekuasaan, masihlah tetap saya jejaki. Termasuk menjejaki syair peminangan Sawerigading, siapa tau benar bisa berwujud mantra. Termasuk coba menelusiri kisah biji besi (material pembuat senjata Badik Luwu) yang termaktub dalam kitab I Lagaligo, kaitannya dengan tambang biji nikel yang sekarang dikelola PT. INCO. Dan inspirasi catatan ini berangkat dari acara Halal bi Halal perusahaan tambang terkemuka itu.

Minasaupa, 12 Oktober 2010